Guru ideal adalah sosok
seorang guru yang dapat diterima oleh muridnya. Tidak hanya dari segi
fisiknya, tapi dalam sifatnya dan cara
pengajaran terhadap murid–muridnya. Guru ideal sangat didambakan para murid–murid. Dari taman kanak–kanak hingga dosen sekalipun.
Namun, guru ideal itu bukanlah harus menjadi sesosok seorang guru yang
sempurna. Melainkan bagaimana seorang guru dapat menerapkan prinsip–prinsip
seorang guru ideal dan dapat menutupi kekurangannya dihadapan murid–muridnya
sampai ke kalangan masyarakat sekalipun. Seorang guru “diwajibkan” ikhlas dan
berpengetahuan dalam mengajar agar tercipta karakter murid–murid yang cerdas.
Dia juga harus memantapkan hati untuk mau mengajar secara ikhlas agar dia tidak
terpengaruh di dalam linkungan buruknya.
Jadi, apa itu guru ideal? Guru yang selalu
bahagai, dapat diterima, dan senantiasa ikhlas mengajar murid–muridnya.
Bagaimana menjadi sesosok guru yang ideal? Guru ideal haruslah mengetahui
sebenarnya apa tujuannya menjadi seorang guru. Diapun harus tau apa
kewajibannya sebagai seorang guru dikalangan masyarakat.
Sosok seorang guru yang ideal di mata
murid–murid berbeda–beda. Ada yang menganggap guru yang “galak” adalah guru
yang ideal. Ada pula guru yang tidak pernah memberikan pekerjaan rumah adalah
ideal, karena dianggap guru yang “pengertian”. Hal tersebut adalah biasa.
Adakah guru yang benar – benar berprestasi ketika dia kuliah, namun dalam hal
mengajar dia dianggap gagal oleh murid? Pasti ada.
Tidak seharusnya kita berkeinginan
menjadi seorang guru yang ideal dengan mengikuti pendahulu kita. Misalkan, kita
melihat guru yang berwibawa, lalu kita mengikuti jejaknya yang berwibawa dalam
mengajar. Dan ditakutkan di mata murid–muridnya adalah seorang guru yang “sok–sok” berwibawa. Murid–murid akan
berbalik meremehkan guru tersebut. Tidak dapat dibayangkan apabila kita sebagai
guru “dicemoohkan” di belakang murid–murid kita sendiri.
Sebaiknya jika seorang guru menerapkan
sistem pembelajaran, harus didasarkan pada karakteristik murid–muridnya dan
kemampuannya dalam mengambil simpati murid–muridnya. Seperti peduli dan adil
pada murid–muridnya dan juga berbagi ilmu yang dia ketahui dalam kehidupan
sehari–hari.
Seorang guru yang peduli akan lebih disayang oleh muridnya. Guru yang
adil akan terlihat bijaksana di mata murid–muridnya. Dan guru yang berbagi
akan membuat murid–muridnya merasa nyaman berada di dekatnya. Murid adalah
seorang anak yang dititipkan kepada kita untuk menuntut ilmu demi masa depannya
kelak. Dalam hal ini, haruslah menjadi seorang guru yang memiliki ciri–ciri
ideal tersebut. Jika sudah bisa mengusai salah satunya, kita telah menuju
ideal.
Dalam krisis kepercayaan ini, guru harus ikut andil dalam menciptakan
karakter anak bangsa untuk masa depan bangsa dan negara kelak. Kelak merekalah
yang akan menjadi pemimpin dimasanya. Guru berkewajiban mencerdaskan anak
bangsa tersebut.
Tidaklah seorang guru hanya terpaku pada pengajaran mata pelajaran yang
di ajarkannya. Belajar di ruang kelas, menjelaskan dengan terpaku pada buku
paket, memberi pr yang banyak, tanpa ada niat yang baik dalam mencerdaskan
mereka. Hendaknya guru mengajarkan batin mereka atau “hati mereka juga. Dan
jangan lupakan masalah keterampilan. Keterampilan sangat dibutuhkan dimanapun
juga. Percuma saja untuk mereka yang pintar namun tidak terampil.
Sebaik – baiknya guru adalah mereka yang dengan ikhlas mengajarkan murid
– muridnya. Kita yang sedang dalam tahap menjadi guru ideal pun akan bangga,
jika suatu hari nanti ada seorang murid yang menunjuk kita dan dengan tegas
mengatakan “BELIAULAH SANG GURU IDEAL KU”.
by: Izzaty Amalia
8 Oktober 2011